HAK-HAK SAHABAT ATAS UMAT

Setelah kita mengetahui pengertian sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- maka kita wajib mengetahui hak-hak mereka atas umat Islam, sebab hal tersebut merupakan bagaian dari akidah dan prinsip agama Islam yang agung. Sebelum kita mengetahui secara rinci tentang hak-hak mereka, marilah kita hadirkan dalam benak kita surat yang agung, yaitu Surat Bara`ah atau Surat Taubah yang disebut oleh para ulama dengan istilah al-Fadhihah (yang membongkar aib), karena ia membongkar aib para musuh Allah, mengungkap rahasia-rahasia mereka dan membeberkan isi hati mereka yang busuk. Ibnu Abbas-Radiallahuanhuma- berkata: “Ia adalah surat al-Fadhihah, ia senantiasa turun “dan di antara mereka” “dan di antara mereka” hingga kami mengira bahwa tidak ada seorang pun melainkan disebut di dalamnya.”
Ketika Allah  menyebutkan sifat-sifat musuh Allah yang rendah, baik dari orang-orang kafir maupun orang munafiq, maka Allah mengabarkan tentang keutamaan para sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, keridhaan Allah kepada mereka, pemulian-Nya kepada mereka, janji Allah kepada mereka dengan karunia yang luas dan nikmat yang abadi, dengan mengatakan:

(وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ) [التوبة:100].

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Ini sungguh tazkiyah yang agung, dan bisyarah (kabar gembira) yang menyenangkan untuk kedua golongan yang terbaik atas persatuan mereka di atas kebenaran, pertolongan mereka kepada Rasul kebenaran, dan agama yang benar hingga penyebutan keduanya menjadi pertanda bagi setiap kebaikan dan petunjuk kepada setiap hidayah kebenaran.
Kemudian jangan lupa kepada ayat lain yang tidak kalah pentingnya dalam memuji sahabat dan menjanjikan kabar gembira kepada para sahabat, yaitu firman Allah dalam surat al-Fath ayat 29. Memuji para sahabat dalam sikap mereka kepada sesama mukmin yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, sikap mereka kepada musuh-musuh Islam yang penuh keberanian dan ketegasan, sikap mereka kepada Allah yang penuh pengabdian dan ketundukan secara zhahir dan batin. Benar! Dengan sifat-sifat agung tersebut mereka memiliki dunia dan memimpin umat manusia dengan karunia Allah sebab persabatan mereka dengan Nabi-Nya, makhluk-Nya yang paling mulia, Muhammad -Shalallahu alaihi wasalam-.

Berikut adalah sebagian hak-hak mereka yang paling agung:

1. Mengakui keutamaan mereka dan meyakininya, tidak mengingkari atau menolak sedikit pun keutamaan mereka, juga tidak mentahrif lalu menjadikannya sebagai aib (keburukan).

2. Mencintai mereka, dan memuji-muji mereka dengan lisan sesuai dengan keutamaan dan kebaikan yang ada pada mereka, serta mencintakan manusia kepada mereka.
Mencintai mereka adalah tanda iman, bukti ketaatan dan permulaan hidayah. Para ahlulbait dahulu sangat mencintai sahabat dan mereka menyatakan itu dengan kuat. Inilah Salif bin Abi Hafshah yang rafidhi pernah memasuki Abu Ja’far al-Baqir yang sakit lalu beliau berdoa –dan saya kira itu untuk saya-:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَلَّى وَأُحِبُّ أَبَابَكْرٍ وَعُمَرَ، اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ فِيْ نَفْسِي غَيْرُ هَذَا فَلاَ نَالَتْنِيْ شَفَاعَةُ مُحَمَّدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Allah sesungguhnya aku loyal dan mencintai Abu Bakar dan Umar, ya Allah, jika di hatiku ada selain ini maka semoga aku tidak mendapatkan Syafaat Nabi Muhammad i di hari kiamat.” (Nuzhatul Fudhala`, 1/522)
Dulu para salaf shalih, diantaranya Thawus, Masruq dan al-Hasan –rahimahumullah- mengajari anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar, Umar dan para sahabat  sebagaimana mereka mengajari al-Qur`an. (Syarah Ushul I’tiqad, al-Lalakai, 7/1313) Imama Malik meriwayatkan dari Zuhri, dia berkata: saya bertanya kepada Said bin al-Musayyib tentang para sahabat Rasul i maka dia berkata kepadaku: “Dengarkan wahai Zuhri, barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan menyaksikan surga untuk sepuluh sahabat dan mendoakan rahmat untuk Mu’awiyah maka benar-benar Allah tidak akan menghisabnya.” (Tarikh Dimasyq dengan sanad shahih)

3. Menghormati dan mengagungkan mereka.
Mereka adalah pemimpin dan pembesar umat Islam. Abu Ja’far al-Baqir dan putranya Ja’far al-Shadiq menyebut Abu Bakar dan Umar adalah “Imamay al-Huda” (dua imam hidayah). Zaid bin Ali al-Husain menyebut Abu Bakar adalah Imam al-Syakirin. Kemudian dia berkata: “Berlepas diri dari Abu Bakar sama dengan berlepas diri dari Ali bin Abi Thalib.”
Jadi ahlulbait sangat mengagungkan sahabat. Inilah Ali Zaenal Abidin (Alin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib  ) ditanya: bagaimana kedudukan Abu Bakar dan Umar di sisi Rasulullah i? Maka beliau menunjuk ke makam Rasul i dan berkata:

بِمَنْزِلَتِهِمَا مِنْهُ السَّاعَةَ

“Seperti kedudukan mereka berdua di samping Nabi i saat ini.” (Nuzhatul Fudhala`: 1/519)
Maka kedekatan Abu Bakar dan Umar dengan Nabi i menunjukkan bahwa mereka berdua bukanlah orang munafiq dan di hati mereka tidak ada penyakit serta keduanya tidak termasuk murjifin (al-Ahzab: 60-61).
Inilah al-Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkata: al-Mughirah bin Said masuk menemuiku –dia pernah dibakar karena kezindikannya- lalu dia menyebut kekerabatanku dan kemiripanku dengan Rasulullah i, -saat aku muda memang diserupakan dengan Rasulullah i- kemudian dia melaknat Abu Bakar dan Umar maka saya katakan kepadanya: “Wahai musuh Allah, apakah di sampingku (kamu melaknat keduanya)? Kemudian saya cekik lehernya, demi Allah, hingga terjulur lidahnya.” (Nuzhah al-Fudhala`: 1/537)

4. Mengambil agama dari mereka dan berteladan kepada mereka dalam hal ilmu, amal, dakwah, amar ma’ruf nahi anil munkar, mu’amalah dengan keseluruhan umat, tegas dan keras kepada musuh-musuh agama, karena mereka adalah manusia yang paling mengerti dengan maksud Allah dalam firman-Nya dan paling mengerti dengan maksud Rasul -Shalallahu alaihi wasalam- dalam sunnahnya, paling sesuai dalam mempraktekkan al-Qur`an dan sunnah, dan paling tulus sikapnya kepada ummat dan paling jauh dari hawa nafsu dan bid’ah. [*]

ahlulbaitdansahabat2

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *