Khutbah Jum'at : "BERSYUKUR KEPADA ALLAH"

Oleh : M. Mujib Ansor, SH., M.Pd.I.

 

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jum’at Rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan iman dan takwa kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala- dengan sebenarnya, kemudian kita tingkatkan pula rasa syukur kita kepada Allah  agar hidup kita bisa tenang, tenteram, dan bahagia lahir-batin. Karena dengan hati yang “syukur”, hati menjadi tenang, tidak tamak, dan tidak serakah, sehingga hidup kita diliputi ketenangan, tidak diperbudak oleh harta dunia dan hawa nafsu.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Syukur adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah, yaitu ibadah yang bersifat qalbiyah (hati). Sebab syukur adalah perintah Allah. Banyak ayat al-Qur’an yang memerintahkan dan mewajibkan kita untuk selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Dan buah dari syukur itu luar biasa, diantaranya adalah ditambahinya nikmat oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala-.

Salah satu ayat yang sangat populer karena seringnya kita ucapkan dan kita dengar adalah:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memberitahukan, jika kalian bersyukur niscaya Aku akan tambah (nikmat itu) bagi kalian, dan jika kalian kufur, maka sesungguhnya siksa Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Dalam ayat ini Allah -Subhanahu wa ta’ala- menjadikan tambahan (nikmat) bergantung kepada kesyukuran.1 Syukur adalah pengikat nikmat dan penyebab pertambahannya. Umar bin Abdul Aziz berkata, ikatlah nikmat-nikmat Allah  dengan bersyukur kepada-Nya.2

Ibnu Abu Dunya meriwayatkan, kepada seorang laki-laki dari Hamadzan Ali bin Abi Thalib  berkata, “Sesungguhnya nikmat itu berhubungan dengan syukur. Sedangkan syukur berkaitan dengan mazid (penambahan nikmat). Keduanya tidak bisa dipisahkan. Maka mazid dari Allah tidak akan terputus sampai terputusnya syukur dari hamba.”3

Ternyata ayat tadi begitu agung maknanya, mudah kita ucapkan, tetapi sulit kita amalkan. Di ayat lain Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?!” (QS. Fathir: 3)

Dalam ayat tersebut, Allah menyuruh umat manusia untuk merenung dan memperhatikan betapa banyak nikmat Allah untuk manusia, baik yang berada di langit maupun yang berada di bumi. Di mana nikmat-nikmat Allah itu kalau mau kita hitung semuanya, niscaya tidak akan mampu menghitungnya. Dan semua itu diberikan untuk kepentingan umat manusia.

Oleh karena itu, tidak layak bagi manusia untuk tidak menyembah Allah, dan tidak layak pula menyekutukan-Nya. Karena hanya Allah-lah yang mampu memberi rezki.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Setiap kali Allah menuntut manusia untuk menyembah-Nya, Allah selalu mengingatkan dengan “Rububiyah”-Nya, seperti firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

  • Ketika Allah menyuruh manusia untuk menyembah-Nya, Ia mengingatkan manusia akan kejadian dirinya. (sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu)

  • Ketika Ia memerintahkan manusia supaya bersyukur, maka manusia diingatkan kepada Yang memberi rezki.

Allah berfirman:

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِتُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu, tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah (cari) rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 17)

Padaawal ayat ini menceritakan umat Nabi Ibrahim -Alaihi wa salam- yang tidak mau menyembah Allah, bahkan mereka menyembah patung-patung yang mereka buat sendiri. Allah menjelaskan bahwa patung-patung atau lainnya yang mereka sembah selain diri-Nya, tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi memberi rezki untuk kehidupannya. Hanya dari sisi Allahlah rezki itu diperoleh. Oleh karena itu, seharusnya mereka hanya menyembah Allah dan bersyukur kepada-Nya. Meski demikian, ayat ini juga ditujukan kepada kita umat Islam agar menyembah dan bersyukur kepada Allah.

» Intisari ayat ini adalah:

  1. Jika ingin memperoleh rezki, mintalah kepada Allah.

  2. Allah adalah sumber segala rezki (baik itu rezki kesehatan, anak, maupun harta dsb).

  3. Beribadah dan bersyukur adalah keharusan bagi manusia.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Selanjutnya, bagaimana agar kita bisa menjadi orang yang pandai bersykur?!

Baginda Rasul -Shalallahu alaihi wa salam- telah memberikan tuntunan kepada kita agar menjadi orang yang pandai bersyukur. Caranya adalah selalu melihat ke bawah dalam masalah harta. Maksudnya, lihatlah orang yang di bawah kita, jangan selalu melihat ke atas (orang kaya dan sukses), nanti menjadi tamak, dan tidak pandai bersyukur. Dari Abu Hurairah -Radiallahu anhu- bahwa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ(رواهمسلم)

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kamu dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka hal itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah atas kamu.” (HR. Muslim)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

  • Bagaimana cara bersyukur kepada Allah?!

Syukur yang benar ada tiga rukun yang harus dipenuhi, tidak boleh tidak, sebagaimana definisi iman, yaitu:

  1. Dengan hati. Hatinya benar-benar bersyukur kepada Allah, mengakui nikmat itu, bukan basa-basi.

  2. Dengan lisan. Lisannya memuji Allah, mengucapkan “ألحمد لله”, membicarakan nikmat itu, sebagai wujud pembenaran hati.

  3. Dibuktikan dengan amal perbuatan, yaitu dengan meningkatkan ibadah kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala-, menaati Allah dan menjauhi maksiat.

Imam al-Ghazali rahimahullah menyebutkan, “Rasa syukur itu dinyatakan dengan mengetahui bahwa tiada pemberi kenikmatan selain Allah. Kemudian apabila engkau ketahui rincian-rincian nikmat Allah atas dirimu pada anggota-anggota badanmu, tubuh dan jiwamu, serta segala yang engkau perlukan dari urusan penghidupanmu, timbullah di hatimu kegembiraan terhadap Allah dan nikmat-Nya serta karunia-Nya atas dirimu. Adapun dengan hati, rasa syukur itu dinyatakan dengan menyembunyikan kebaikan bagi seluruh manusia dan menghadirkannya selalu dalam mengingat Allah Ta’ala sehingga tidak melupakannya. Adapun dengan lisan, engkau nyatakan dengan banyak mengucap tahmid. Dengan anggota tubuh, dinyatakan dengan menggunakan nikmat-nikmat Allah dalam menaati-Nya dan menghindari penggunaan nikmat itu mendurhakai-Nya.”4

Jadi, orang yang bersyukur kepada Allah, akan selalu taat kepada Allah dan giat beribadah. Sebaliknya, orang yang malas beribadah dan banyak maksiat adalah pertanda bagi orang yang tidak bersyukur atau kurang syukurnya kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala-.

Oleh karena itu, orang yang pandai bersyukur, dan benar-benar bersyukur kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala- itu sedikit sekali. Tidak banyak. Begitu yang dikabarkan Allah dalam al-Qur’an:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Dan sedikit saja dari hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Imam Ibnul Qayyum rahimahullah menjelaskan, “Allah menamakan Diri-Nya asy-Syakir dan asy-Syakur, dan juga menamakan orang-orang yang bersyukur dengan dua nama ini. Dengan begitu Allah menyifati mereka dengan sifat-Nya dan memberikan nama kepada mereka dengan nama-Nya. Yang demikian ini sudah cukup untuk menggambarkan kecintaan dan karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bersyukur. Pengabaran tentang sedikitnya orang yang bersyukur di dunia ini, menunjukkan kekhususan mereka.5

Ibnul Qoyyum juga menyebutkan bahwa syukur termasuk tempat persinggahan yang paling tinggi dan lebih tinggi daripada ridha. Ridha merupakan satu tahapan dalam syukur, sebab mustahil ada syukur tanpa ada ridho.6

Sementara Dr. Saad Riyadh menyebutkan bahwa ketakwaan merupakan pintu masuk kepada sikap syukur. Dengan demikian, sikap terakhir ini lebih tinggi derajatnya dibandingkan ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

“Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (QS. Ali Imran: 123)

Posisi tinggi yang diperolehnya ini disebabkan kesyukuran merupakan upaya untuk mencurahkan segenap tenaga kepada hal-hal yang dicintai Allah -Subhanahu wa ta’ala-. Itulah sebabnya, ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah  tentang apa sebabnya beliau masih begitu giat beribadah –sampai kakinya bengkak, beliau lalu menjawab, “Mengapa aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?!”7

Kita berdoa kepada Allah, semoga kita dijadikan Allah termasuk orang-orang yang sedikit itu, yaitu orang-orang yang pandai bersyukur kepada Allah, sehingga menjadi hamba yang taat kepada Allah -Subhanahu wa ta’ala-, amin ya Rabbal ‘alamin.

بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم، ونفعنى واياكم بما فيه من الأيات والدكر الحكيم، وتقبل الله منى ومنكم تلاوته انه هو الغفور الرحيم

Khutbah ke dua:

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pada khutbah kedua ini kami ingin mengingatkan sekali lagi untuk senantiasa menjadi orang yang pandai bersyukur, bukan menjadi orang yang kufur. Karena Allah membagi manusia menjadi dua; syukur dan kufur. Yang paling dimurkai Allah adalah kekufuran dan orang-orang kafir. Sedangkan yang paling dicintai Allah adalah kesyukuran dan orang-orang yang pandai bersyukur. Allah berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sungguh telah Kami tunjukkan kepadanya jalan itu. Adakalanya ia bersyukur dan adakalanya ia kufur.” (QS. Al-Insan: 3)

Dan tatkala iblis mengerti nilai syukur, bahwa ia merupakan maqam tertinggi dan termulia, maka iblispun mencanangkan tujuan akhirnya adalah mengusahakan terputusnya manusia dari bersyukur. Allah menjelaskan tentang tekad iblis:

ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Lalu aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari samping kanan, dan dari samping kiri. Sehingga Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka pada bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17)

Ya Allah, tolonglah kami agar selalu ingat kepada-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Amin Ya Mujibassa’ilin. [*]

 

Sumber Rujukan:

 

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Madarijus Salikin: Pendakian Menuju Allah, terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, cet. V, 2003

Ibnul Qayyim, Ibnu Rajab, Imam Ghazali, Tazkiyah an-Nafs: Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf, Pentahqiq: Dr. Ahmad Farid, Solo: Pustaka Arafah, cet. I, 2001.

Imam al-Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, terj. Zeid Husain al-Hamid, Jakarta: Pustaka Amani, cet. II, 2007

Saad Riyadh, Dr. Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- terj. Abdul Hayyie al-Kattani, Jakarta: Gema Insani Press, cet. I, 2007

1 Tazkiyah an-Nafs, 96.

2 Ibid, 98.

3 Ibid.

4 Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, 358.

5 Madarijus Salikin: Pendakian Menuju Allah, 236.

6 Madarijus Salikin: Pendakian Menuju Allah, 235.

7 Jiwa Dalam Bimbingan Rasulullah _shalallahu alaihi wa salam- 136.

 

* Pernah di muat di Majalah al Umm Edisi 5 Tahun I

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *