Penjajahan di Era Kemerdekaan

Sesungguhnya kemerdekaan pribadi, masyarakat, dan bangsa adalah perkara yang terpatri dalam jiwa, yang dikukuhkan oleh syariat Islam melalui firman Allah -Subhanahu wa ta’ala- dalam surat al-Anbiya’ ayat 92 dan Ali Imran ayat 28. Tatkala Yahudi berkata: “Lihatlah Muhammad, dia shalat menghadap kiblat kita (Baitul Maqdis) tetapi beragama selain agama kita”, maka Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- berharap bisa bebas dari  “tuduhan” mengikuti Yahudi, maka Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- selalu melihat ke langit hingga Allah menurunkan al-Qur`an Surat al-Baqarah ayat 144 mewujudkan cita-cita Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- untuk merdeka bebas dari “mengikut Yahudi”.
Baginda Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- memperingatkan umat agar jangan mengikut orang kafir secara mutlak.Maka Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda yang artinya: “Niscaya kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk lubang Dhab (biawak) niscaya kalian akan mengikuti mereka.” (Muttafaq alaih).
Maka disini kita berhak bertanya: sudahkan kaum muslimin mewujudkan kemerdekaan terbesar (al-Istiqlal al-Akbar), meminjam istilah Raja Muhammad V yang setelah berhasil mengusir penjajah mengatakan: “Kita telah keluar dari jihad ashghar menuju jihad akbar.” Maka kita tidak boleh hanya merdeka dari fisik penjajah, sementara diri dan jiwa kita masih belum merdeka.
Maka merdeka yang sejati adalah manakala kita telah mandiri, tidak bergantung kepada “penjajah” dalam hal politik, ekonomi, budaya,dan pendidikan.
Merdeka dalam bahasa Arab adalah al-Istiqlal yang berarti berjalan yang normal dan mantap, mengandung makna tinggi dan di atas. Maka Istiqlal hakiki adalah deklarasi kebebasan dari ketergantungan pada orang lain, dan mengangkat kepala dengan dasar-dasar agama kita tanpa mengotori agama dengan keyakinan adanya keshalehan dan keselamatan di luar agama kita.
Kemerdekaan sejati dimulai dengan rakyat berbaiat kepada pemimpinnya lalu saling memegang dengan erat dan bersama-sama membangun dan mengatasi masalah dan kesulitan. Masing-masing mati-matian melayani tanah air muslim tempat mengalirnya darah para syuhada’ dari leluhur kita dalam memerdekakannya dari genggaman penjajah.
Maka sehubungan dengan dekatnya Hari Kemerdekaan RI ke 70 kita angkat tema “Penjajahan di Era Kemerdekaan”. Semoga bermanfaat. [*]

Cover III-08

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *