
Hadits ats-tsaqalain (al-Qur`an dan ahlulbait) adalah salah satu hadits yang menjadi pokok perbedaan manhaj beragama antara Ahlussunnah dan Syi’ah. Dari hadits inilah kemudian muncul teologi ‘beragama menurut Ahlulbait’ yang diklaim oleh Syi’ah. Bahkan salah seorang mereka menulis buku yang cukup tebal (409 halaman), dengan judul “Dua Pusaka Nabi r: al-Qur`an dan Ahlulbait“. Bahkan buku baru syi’ah (September 2012) yang berjudul “Buku Putih Madzhab Syiahâ€, yang diluncurkan untuk meredam gejolak umat Islam Indonesia yang semakin mengetahui kesesatan syi’ah, di halaman 94 menyebutkan bahwa hadits tsaqalain ini termasuk “paling indah, paling shahih, dan paling tersebar luas di kalangan Muslimin. Hadits ini telah diabadikan oleh Enam Kitab Shahih (al-Kutub al-Sittah) dan para ulama juga menerimanya.â€
Mereka beranggapan bahwa agama ini hanya akan betul dan sah jika dibawakan menurut jalur Ahlulbait, bukan selain mereka. Ahlulbait yang dimaksudkan di sini pun berbeda dengan apa yang dipahami Ahlussunnah dari al-Qur`an, Sunnah, sahabat dan bahkan ahlul-bait sendiri. Jadi, mereka tidak ikut sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam, sunnah Khulafaurrasyidin, dan sunnah para sahabat. Mereka hanya mengklaim ikut ahlulbait yang ahlulbait sendiri ternyata tidak mereka ikuti.
Sementara ahlussunnah dikenal dengan nama ahlussunnah waljamaah karena ikut Sunnah Nabi, sunnah Khulafa’ Rasyidin (termasuk di dalamnya ahlulbait yaitu Imam Ali, Imam Hasan) serta mengukuti Ijma’ para sahabat baik yang ahlulbait maupun non-ahlulbait. Sehingga ahlussunnah mengikuti al-Qur`an, sunnah Nabi, khulafaurrasyidin, sahabat dan ahlulbait sekaligus.
Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba mendiskusikan hadits ats-tsaqalain ini dari beberapa jalur periwayatan, sekaligus bagaimana memahami makna yang ada di dalamnya.
Beberapa riwayat hadits ats-tsaqalain:
1. Shahih Muslim
Pertama : Hadits Zaid bin Arqam (shahih)
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Makhlad, keduanya dari Ibnu ‘Ulayyah: telah berkata Zuhair: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim: telah menceritakan kepadaku Abu Hayyan: telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan, ia berkata: “Aku pergi ke Zaid bin Arqam bersama Hushain bin Sabrah dan ‘Umar bin Muslim. Setelah kami duduk. Hushain berkata kepada Zaid bin Arqam: ‘Wahai Zaid, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak. Engkau telah melihat Rasulullah i, engkau mendengar sabda beliau, engkau bertempur menyertai beliau, dan engkau telah shalat di belakang beliau. Sungguh, engkau telah memperoleh kebaikan yang banyak wahai Zaid. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada kami -wahai Zaid– apa yang engkau dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam!’ Zaid bin Arqam berkata : ‘Wahai keponakanku, demi Allah, aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang aku dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam. Apa yang bisa aku sampaikan kepadamu, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan kepadamu janganlah engkau memaksaku untuk menyampaikannya.’ Kemudian Zaid bin Arqam mengatakan: ‘Pada suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berdiri berkhutbah di suatu sumber (mata air) yang disebut Khumm yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan, lalu beliau bersabda:
أَمَّا بَعْد٠أَلَا Ø£ÙŽÙŠÙّهَا النَّاس٠ÙÙŽØ¥Ùنَّمَا أَنَا بَشَرٌ ÙŠÙوشÙك٠أَنْ يَأْتÙÙŠÙŽ رَسÙول٠رَبÙّي ÙÙŽØ£ÙØ¬Ùيبَ وَأَنَا تَارÙÙƒÙŒ ÙÙيكÙمْ ثَقَلَيْن٠أَوَّلÙÙ‡Ùمَا ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠ÙÙÙŠÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’Ù‡ÙØ¯ÙŽÙ‰ وَالنÙّور٠ÙÙŽØ®ÙØ°Ùوا بÙÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠وَاسْتَمْسÙÙƒÙوا بÙÙ‡Ù ÙÙŽØÙŽØ«ÙŽÙ‘ عَلَى ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠وَرَغَّبَ ÙÙيه٠ثÙÙ…ÙŽÙ‘ قَالَ وَأَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ùَقَالَ Ù„ÙŽÙ‡Ù ØÙصَيْنٌ وَمَنْ أَهْل٠بَيْتÙه٠يَا زَيْد٠أَلَيْسَ Ù†ÙØ³ÙŽØ§Ø¤ÙÙ‡Ù Ù…Ùنْ أَهْل٠بَيْتÙه٠قَالَ Ù†ÙØ³ÙŽØ§Ø¤ÙÙ‡Ù Ù…Ùنْ أَهْل٠بَيْتÙÙ‡Ù ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙنْ أَهْل٠بَيْتÙه٠مَنْ ØÙرÙÙ…ÙŽ الصَّدَقَةَ بَعْدَه٠قَالَ وَمَنْ Ù‡Ùمْ قَالَ Ù‡Ùمْ آل٠عَلÙÙŠÙÙ‘ وَآل٠عَقÙيل٠وَآل٠جَعْÙَر٠وَآل٠عَبَّاس٠قَالَ ÙƒÙÙ„ÙÙ‘ هَؤÙلَاء٠ØÙرÙÙ…ÙŽ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ
‘Amma ba’d. Ketahuilah wahai saudara-saudara sekalian bahwa aku adalah manusia (seperti kalian). Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat pencabut nyawa) akan datang, lalu aku menjawabnya. Aku akan meninggalkan di tengah kalian Tsaqalain (dua hal yang berat), yaitu: Pertama, Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah kitabullah dan berpegang teguhlah kalian kepadanya.’ Beliau menghimbau dan mendorong untuk mengikuti Kitabullah. Kemudian beliau melanjutkan: ‘(Kedua), dan ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlubaitku’ – beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali – . Maka Hushain bertanya kepada Zaid bin Arqam: ‘Wahai Zaid, siapakah ahlulbait Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlulbaitnya?’ Zaid bin Arqam menjawab: ‘Istri-istri beliau Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam memang ahlulbaitnya, namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau.’ Hushain berkata: ‘Siapakah mereka itu?’ Zaid menjawab: ‘Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.’ Hushain berkata: ‘Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat?’ Zaid menjawab: ‘Ya.’
Kedua: hadits Zaid bin Arqam
Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar-Rayyan: Telah menceritakan kepada kami Hassan -yaitu Ibnu Ibrahim- dari Sa’id bin Masruq, dari Yazid bin Hayyan, dari Zaid bin Arqam dari Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam, lalu dia menyebutkan haditsnya yang semakna dengan hadits Zuhair di atas.
Ketiga: Hadits Jarir
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail. Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim: Telah mengabarkan kepada kami Jarir; keduanya (Muhammad bin Fudhail dan Jarir) dari Abu Hayyan melalui jalur ini sebagaimana hadits Isma’il, dan di dalam hadits Jarir ada tambahan :
ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠ÙÙÙŠÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’Ù‡ÙØ¯ÙŽÙ‰ وَالنÙّور٠مَنْ اسْتَمْسَكَ بÙه٠وَأَخَذَ بÙه٠كَانَ عَلَى Ø§Ù„Ù’Ù‡ÙØ¯ÙŽÙ‰ وَمَنْ أَخْطَأَه٠ضَلَّ
“Yaitu Kitabullah, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengannya dan mengambil pelajaran dari dalamnya maka dia akan berada di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang menyalahinya, maka dia akan tersesat.â€
Keempat: Hadits Zaid bin Arqam
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkaar bin Ar-Rayyan: Telah menceritakan kepada kami Hassan -yaitu Ibnu Ibrahim-, dari Sa’id -yaitu Ibnu Masruq-, dari Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam. Dia (Yazid) berkata : “Kami menemui Zaid bin Arqam, lalu kami katakan kepadanya: ‘Sungguh kamu telah memiliki banyak kebaikan. Kamu telah bertemu dengan Rasulullah, shalat di belakang beliau…dan seterusnya sebagaimana hadits Abu Hayyan. Hanya saja dia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :
أَلَا ÙˆÙŽØ¥ÙÙ†Ùّي تَارÙÙƒÙŒ ÙÙيكÙمْ ثَقَلَيْن٠أَØÙŽØ¯ÙÙ‡Ùمَا ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠عَزَّ وَجَلَّ Ù‡ÙÙˆÙŽ ØÙŽØ¨Ù’ل٠اللَّه٠مَنْ اتَّبَعَه٠كَانَ عَلَى Ø§Ù„Ù’Ù‡ÙØ¯ÙŽÙ‰ وَمَنْ تَرَكَه٠كَانَ عَلَى ضَلَالَةÙ
’Ketahuilah, sesungguhnya aku meninggalkan di tengah kalian dua perkara yang berat. Salah satunya adalah Al Qur’an, yaitu tali Allah yang barangsiapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.’ Juga di dalamnya disebutkan perkataan: Lalu kami bertanya: “Siapakah ahlubaitnya, bukankah istri-istri beliau?†Dia menjawab: “Bukan, demi Allah. Sesungguhnya seorang istri bisa saja bersama suaminya di saat asar dari suatu masa kemudian suaminya menceraikannya lalu wanita itu kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Sedangkan ahlulbaitnya adalah ‘ashabahnya yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat sesudahnya.†[Diriwayatkan oleh Muslim no. 2408].
2. Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal
Hadits Zaid bin Arqam (shahih):
Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim, dari Abu Hayyan At-Taimiy: Telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan At-Taimiy, ia berkata: “Aku, Hushain bin Sabrah, dan ‘Umar bin Muslim berangkat menemui Zaid bin Arqam. Ketika kami duduk bersamanya, Hushain berkata kepadanya: “Sesungguhnya Anda telah menemui kebaikan yang banyak wahai Zaid. Anda telah melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam dan mendengar haditsnya. Kemudian Anda juga telah berperang bersamanya dan shalat bersamanya. Sungguh, Anda telah melihat kebaikan yang banyak. Karena itu, ceritakanlah kepada kami apa yang telah Anda dengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam.†Zaid berkata: “Wahai anak saudaraku, demi Allah, usiaku telah lanjut, dan masaku pun telah berlalu, dan aku telah lupa sebagian yang telah aku hafal dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam. Maka apa yang aku ceritakan pada kalian, terimalah. Dan apa yang tidak, maka janganlah kalian membebankannya padaku.†Zaid melanjutkan berkata: “Pada suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berdiri dan berkhutbah kepada kami di sebuah mata air yang disebut Khumm, yakni bertempat antara Ka’bah dan Madinah. Kemudian beliau memuji Allah dan mengungkapkan puji-pujian atas-Nya. Beliau memberi nasehat dan peringatan. Dan setelah itu beliau bersabda :
أَمَّا بَعْد٠أَلَا يَا Ø£ÙŽÙŠÙّهَا النَّاس٠إÙنَّمَا أَنَا بَشَرٌ ÙŠÙوشÙك٠أَنْ يَأْتÙÙŠÙŽÙ†ÙÙŠ رَسÙول٠رَبÙّي عَزَّ وَجَلَّ ÙÙŽØ£ÙØ¬Ùيب٠وَإÙÙ†Ùّي تَارÙÙƒÙŒ ÙÙيكÙمْ ثَقَلَيْن٠أَوَّلÙÙ‡Ùمَا ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠عَزَّ وَجَلَّ ÙÙÙŠÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’Ù‡ÙØ¯ÙŽÙ‰ وَالنÙّور٠ÙÙŽØ®ÙØ°Ùوا بÙÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠تَعَالَى وَاسْتَمْسÙÙƒÙوا بÙÙ‡Ù ÙÙŽØÙŽØ«ÙŽÙ‘ عَلَى ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠وَرَغَّبَ ÙÙيه٠قَالَ وَأَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ
‘Amma ba’du, wahai sekalian manusia, aku hanyalah seorang manusia, yang hampir saja utusan Rabb-ku mendatangiku hingga aku pun memenuhinya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan dua perkara yang sangat berat di tengah-tengah kalian. Yang pertama adalah Kitabullah ‘azza wajalla. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Karena itu, ambillah dan berpegang-teguhlah kalian dengannya.†Beliau memberikan motivasi terkait dengan kitabullah dan mendorongnya. Kemudian beliau bersabda lagi: “Dan (yang kedua adalah) ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlulbaitku, aku ingatkan kalian karena Allah tentang ahlulbaitku.†Kemudian Hushain bertanya kepada Zaid: “Dan siapakah ahlulbaitnya, wahai Zaid?†Bukankah isteri-isteri beliau adalah termasuk ahlulbaitnya?†Zaid menjawab: “Isteri-isteri beliau memang termasuk bagian dari ahlulbaitnya. Akan tetapi, ahlulbait beliau adalah siapa saja yang telah diharamkan baginya untuk menerima sedekah (zakat) setelah beliau.†Hushain bertanya lagi: “Siapakah mereka itu?†Zaid menjawab: “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.†Zaid bertanya lagi: “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima sedekah?†Ia menjawab : “Ya.†[4/366-367]
Hadits Abu Said al-Khudri (dhaif[1])
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :
Ø¥ÙÙ†Ùّي قَدْ تَرَكْت٠ÙÙيكÙمْ الثَّقَلَيْن٠أَØÙŽØ¯ÙÙ‡Ùمَا أَكْبَر٠مÙنْ Ø§Ù„Ù’Ø¢Ø®ÙŽØ±Ù ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠عَزَّ وَجَلَّ ØÙŽØ¨Ù’Ù„ÙŒ مَمْدÙودٌ Ù…Ùنْ السَّمَاء٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽØ±Ù’Ø¶Ù ÙˆÙŽØ¹ÙØªÙ’رَتÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ أَلَا Ø¥ÙنَّهÙمَا لَنْ ÙŠÙŽÙْتَرÙقَا ØÙŽØªÙŽÙ‘Ù‰ ÙŠÙŽØ±ÙØ¯ÙŽØ§ عَلَيَّ الْØÙŽÙˆÙ’ضَ
“Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang berat, salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitabullah, tali yang dibentangkan dari langit ke bumi, dan ‘itrahku ahlul-baitku, keduanya tidak akan berpisah hingga mereka datang kepadaku di telagaku.†[3/26]
Hadits Zaid bin Tsabit (Dhaif)[2]
Ø¥ÙÙ†Ùّي تَارÙÙƒÙŒ ÙÙيكÙمْ خَلÙÙŠÙَتَيْنÙ: ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù Ø§Ù„Ù„Ù‡ÙØŒ ØÙŽØ¨Ù’Ù„ÙŒ مَمْدÙودٌ مَا بَيْنَ Ø§Ù„Ø³ÙŽÙ‘Ù…ÙŽØ§Ø¡Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ø£ÙŽØ±Ù’Ø¶ÙØŒ أَوْ مَا بَيْنَ السَّمَاء٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽØ±Ù’Ø¶ÙØŒ ÙˆÙŽØ¹ÙØªÙ’رَتÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠØŒ ÙˆÙŽØ¥ÙنَّهÙمَا لَنْ يَتَÙَرَّقَا ØÙŽØªÙŽÙ‘Ù‰ ÙŠÙŽØ±ÙØ¯ÙŽØ§ عَلَيَّ الْØÙŽÙˆÙ’ضَ
“Aku tinggalkan di tengah kalian dua pusaka: kitabullah, yaitu tali Allah yang dijulurkan antara langit dan bumi atau antara langit sampai ke bumi dan ‘itrahku ashli baitku, sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga mendatangiku di telaga.â€
3. Sunan At-Tirmidzi
Hadits Jabir bin Abdillah t (dhaif)[3]
Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata : “Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam dalam hajinya ketika di ‘Arafah, sementara beliau berkhutbah di atas untanya – Al-Qashwa`- dan aku mendengar beliau bersabda :
يَا Ø£ÙŽÙŠÙّهَا النَّاس٠إÙÙ†Ùّي قَدْ تَرَكْت٠ÙÙيكÙمْ مَا Ø¥Ùنْ أَخَذْتÙمْ بÙه٠لَنْ تَضÙÙ„Ùّوا ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨ÙŽ Ø§Ù„Ù„ÙŽÙ‘Ù‡Ù ÙˆÙŽØ¹ÙØªÙ’رَتÙÙŠ أَهْلَ بَيْتÙÙŠ
‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang dengannya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu Kitabullah dan ‘itrahku ahlulbaitku.†[no. 3786]
Hadits Zaid bin Arqam (dhaif)[4]
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :
Ø¥ÙÙ†Ùّي تَارÙÙƒÙŒ ÙÙيكÙمْ مَا Ø¥Ùنْ تَمَسَّكْتÙمْ بÙه٠لَنْ تَضÙÙ„Ùّوا بَعْدÙÙŠ Ø£ÙŽØÙŽØ¯ÙÙ‡Ùمَا أَعْظَم٠مÙنْ Ø§Ù„Ù’Ø¢Ø®ÙŽØ±Ù ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠ØÙŽØ¨Ù’Ù„ÙŒ مَمْدÙودٌ Ù…Ùنْ السَّمَاء٠إÙÙ„ÙŽÙ‰ Ø§Ù„Ù’Ø£ÙŽØ±Ù’Ø¶Ù ÙˆÙŽØ¹ÙØªÙ’رَتÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ وَلَنْ يَتَÙَرَّقَا ØÙŽØªÙŽÙ‘Ù‰ ÙŠÙŽØ±ÙØ¯ÙŽØ§ عَلَيَّ الْØÙŽÙˆÙ’ضَ ÙÙŽØ§Ù†Ù’Ø¸ÙØ±Ùوا كَيْÙÙŽ تَخْلÙÙÙونÙÙŠ ÙÙيهÙمَا
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang sekiranya kalian berpegang teguh dengannya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, salah satu dari keduanya itu lebih besar dari yang lain, yaitu; Kitabullah adalah tali yang Allah bentangkan dari langit ke bumi, dan ‘itrahku ahli baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telaga, oleh karena itu perhatikanlah oleh kalian, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sesudahku†[no. 3788].
4. Al-Ma’rifah wat-Taarikh (Abu Yusuf Ya’qub bin Sufyan al-Fasawi, 227 H)
Hadits Zaid bin Arqam (diperselisihkan)
Dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Telah bersabda Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam: “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah ‘azza wa jalla, dan ‘itrahku ahlulbaitku. [Dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Al-Haudh].†(1/536; kalimat yang terakhir dhaif).
5. Mustadrak Al-Hakim.
Hadits Zaid bin Arqam: (dhaif)[5]
Dari Abu ath-Thufail bin Watsilah: Bahwasannya ia mendengar Zaid bin Arqam t berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam singgah di suatu tempat antara Makkah dan Madinah di dekat lima pohon yang teduh dan besar maka orang-orang membersihkan tanah di bawah pohon-pohon tersebut. Kemudian Rasulullah r beristirahat di sore hari kemudian mendirikan shalat. Setelah itu beliau Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berkhutbah. Beliau memuji dan menyanjung Allah ta’ala, mengingatkan dan memberikan nasehat (kepada manusia). Kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda :
â€Wahai sekalian manusia, aku tinggalkan kepadamu dua perkara, yang apabila kamu mengikuti keduanya maka kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan ahlulbaitku ‘itrahku.†Kemudian beliau melanjutkan: “Bukankah kalian mengetahui bahwa aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri?†(sebanyak 3 x). Orang-orang menjawab : “Ya.†Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda: â€Barangsiapa yang aku ini maulanya (orang yang dicintai/ditaatinya), maka Ali adalah maulanya.†[no. 4577]
6. Musykiilul-Aatsaar (al-Thahawi)
Hadits Ali (dhaif)[6]
Dari Muhammad bin ‘Umar bin ‘Aliy, dari ayahnya, dari ‘Ali: Bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berteduh di Khum kemudian beliau keluar sambil memegang tangan ‘Ali. Beliau berkata: “Wahai manusia, bukankah kalian bersaksi bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Rabb kalian?†Orang-orang berkata: “Benar.†Beliau kembali bersabda: “Bukankah kalian bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri; serta Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah maula bagi kalian?†Orang-orang berkata, “benar.†Beliau Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam kembali bersabda: “Maka barangsiapa yang aku ini maulanya maka dia ini juga maulanya,†atau [Rasul Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda]: “Maka ‘Ali sebagai maulanya†[keraguan ini dari Ibnu Marzuq]. Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah yang berada di tangan kalian, dan Ahlulbaitku.†[3/56]
7. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah
Hadits Ali (Dhaif):
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda: “Aku tinggalkan di tengah kalian sesuatu yang jika kalian mengambilnya, kalian tidak akan sesat, yaitu Kitabullah yang sebabnya ada di tangan-Nya dan sebabnya ada di tangan kalian, dan ahli baitku.â€
Pemahaman yang utuh dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar.
Sebagaimana diketahui bahwa hadits di atas diucapkan Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam pada waktu yang sama dan disaksikan lebih dari seorang shahabat. Yaitu saat pulang dari haji wada’, tepatnya di satu tempat yang bernama Khumm. Jika kita ketahui bahwa hadits ini keluar dari orang yang satu (yaitu Nabi i), waktu yang satu (yaitu saat pulang haji wada’), dan tempat yang satu (Khumm), maka lafal hadits ini pun sebenarnya satu. Hukum dan maknanya pun juga satu.
Oleh karena itulah, kita perlu melihat keseluruhan lafal hadits dari riwayat yang berbeda-beda sehingga kita bisa melihat lafal hadits tersebut secara utuh. Karena telah maklum bahwa kadang satu hadits sengaja dibawakan oleh seorang perawi dengan meringkas, dan di lain riwayat ia bawakan secara lengkap. Juga, kadang seorang perawi menerima hadits dengan lafal ringkas, namun perawi selain dirinya membawakan secara lengkap. Juga adanya faktor kekurangan dalam sifat hafalan seorang perawi sehingga ia membawakan hadits yang semula panjang (lengkap), namun kemudian ia bawakan secara ringkas. Dan beberapa kemungkinan yang lainnya.
Hadits yang mempunyai latar belakang kisah, lebih kuat penunjukan hukumnya daripada yang tidak.
Ini mewajibkan kita untuk menelaah keseluruhan lafal hadits yang ada.
Telah shahih riwayat dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad bahwa ketika Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berwasiat kepada umatnya tentang dua perkara yang berat (ats-tsaqalain), beliau berkata :
أَوَّلÙÙ‡Ùمَا ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠ÙÙÙŠÙ‡Ù Ø§Ù„Ù’Ù‡ÙØ¯ÙŽÙ‰ وَالنÙّور٠ÙÙŽØ®ÙØ°Ùوا بÙÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللَّه٠وَاسْتَمْسÙÙƒÙوا بÙÙ‡Ù
“Pertama, Kitabullah yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia dan berpegang teguhlah kalian dengannya.â€
Kemudian beliau menyambung perkara yang kedua:
وَأَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ Ø£ÙØ°ÙŽÙƒÙّرÙÙƒÙمْ اللَّهَ ÙÙÙŠ أَهْل٠بَيْتÙÙŠ
“(Kedua), dan ahlulbaitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlubaitku.â€
Dari riwayat ini sangat jelas diketahui bahwa perintah untuk berpegang teguh ditujukan kepada Kitabullah. Adapun kepada Ahlulbait, beliau mengingatkan umatnya untuk memenuhi hak-haknya (sebagaimana diatur dalam syari’at) jangan sampai menzhaliminya.
Dari semua riwayat tadi yang shahih adalah riwayat Zaid bin Arqam radiyallahu ‘anhuma yang tidak mengandung perintah berpegang teguh dengan ‘itrah (ahlulbait) melainkan berpegang teguh hanya dengan Kitabullah. Ini sesuai dengan hadits Jabir bin Abdillah dalam Shahih Muslim bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam berwasiat:
وَقَدْ تَرَكْت٠ÙÙيكÙمْ مَا لَنْ تَضÙÙ„Ùّوا بَعْدَه٠إÙن٠اعْتَصَمْتÙمْ بÙÙ‡ÙØŒ ÙƒÙØªÙŽØ§Ø¨Ù اللهÙ
“Aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu yang kalian tidak akan sesat setelahnya selama-lamanya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu Kitabullah.†Jadi, tidak ada perintah untuk perpegang teguh dengan ahlulbait. Hadits yang memerintahkan demikian didhaifkan oleh Imam Ahmad dan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah. Memang Syekh al-Albani menshahihkan, akan tetapi pemaknaannya beliau bawa kepada yang muhkam, yaitu sama maknanya dengan mengikuti al-Qur`an dan sunnah Khulafaurrasyidin dan para sahabatnya.
Baik, seandainya haditsnya shahih, atau kita mengalah bahwa kita diperintah untuk berpegang teguh dengan tsaqalain. Lalu siapakah tsaqalain itu? Tsaqalain adalah Kitabullah dan ‘Itrah Nabi Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam. Ibnul Atsir berkata: disebut tsaqalain karena mengambil keduanya dan mengamalkannya adalah berat. Dikatakan untuk setiap yang penting dan berharga “tsaqal†maka keduanya disebut tsaqalain untuk mengagungkan dan meninggikan urusan keduanya.†(Gharibul Hadits, 1/216).
Jadi, arti hadits Nabi i ini adalah perintah untuk menjaga hak-hak ahlulbait, oleh karena itu para sahabat radiyallahu ‘anhuma telah memberikan hak tsaqalain ini dengan sempurna. Inilah Abu Bakar al-Shiddiq radiyallahu ‘anhum berkata:
والذي Ù†ÙØ³ÙŠ Ø¨ÙŠØ¯Ù‡ لقرابة رسول الله صلى الله عليه وسلم Ø£ØØ¨ إلي أن أصÙÙ„ÙŽ من قرابتي
“Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kekerabatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam lebih aku cintai untuk aku sambung daripada keluargaku sendiri.†(HR. Bukhari) [*]
***********************
Bersambung …..
[1] HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Ya’la, Ibn Abi Ashim. Dhaif karena ada ‘Athiyyah Al-‘Aufiy yang didhaifkan oleh Ahmad, Abu Hatim, Nasa`I, dll. bahkan sepakat atas kelemahannya.
[2] HR. Ahmad dan Thabrani, ada al-Qasim bin Hassan dinilai tsiqah oleh Ahmad bin shalih dan al-Ajuli dan disebut oleh ibnu Hibban dalam al-Tsiqat tetapi dilemahkan oleh Bukhari dan Ibnu Qaththan. Ibnu Abi Hatim mendiamkannya, dan ibnu Hajar berkata: maqbul. Di dalamnya juga ada Syuraik bin Abdillah: buruk hafalannya.
[3] karena Zaid bin Al-Hasan Al-Anmathiy matruk al-Hadits.
[4] dua sanad yang poros sanadnya pada Al-A’masy; yang satu karena ada ‘Athiyyah Al -‘Aufiy karena Habiib bin Abi Tsaabit yang banyak melakukan tadliis dan irsal, tidak diterima kecuali jika ia membawakan dengan tashriih penyimakannya.
[5] dikarenakan Muhammad bin Salamah bin Kuhail.
[6] Hasan, karena Katsiir bin Zaid Al-Aslamiy As-Sahmiy, yang diperselisihkan.
Penulis : Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag. (Artikel Pernah Dimuat Pada Majalah al-Umm Edisi I Tahun I, November 2012)

Be the first to comment on "Al-Qur’an dan Ahlul Bait (Hadits Tsaqolaini) – Bag I"