Gangguan Jin Terhadap Peran – Kedudukan Manusia Di Masyarakat (III)

Edisi 07 Th. I

Oleh: Ustadz Abu Irbah Ariffuddin, S.Ag.

(Artikel Pernah Dimuat Pada Majalah al-Umm Edisi VII Tahun I, April 2013)

Bismillahirrahmanirrahim

Edisi 07 Th. I

Edisi 07 Th. I

Pada edisi sebelumnya sudah kita bahas mengenai berbagai pengaruh gangguan jin terhadap kepribadian manusia, yaitu manusia sebagai individu/ person. Selanjutnya marilah kita coba untuk membuka wawasan kita dengan mencermati bagaimana keberadaan individu-individu yang bermasalah ini apabila masuk dalam sebuah system kehidupan? Apabila kita tinjau dari kedudukan sosialnya. Peran utama manusia dalam kehidupan ini adalah bagaimana dia memposisikan dirinya di hadapan Allah SWT dan kehidupan sosialnya. Hal ini tidak bisa terlepas bahwa manusia adalah ‘abdullah (hamba Allah) dan makhluk social. Tugas utama sebagai hamba Allah adalah mantaati Allah, menyembah, menjalankan segala perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan Manusia melaikan untuk beribadah kepadaku”. [Adz Dzariyat [51] : 56].
Sedangkan dalam peran sosialnya, dia harus berjalan di atas syari’at yang telah dibentangkan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an dan lewat RosulNya Nabi Muhammad SAW dalam As-sunnah. Karena jika seorang hamba telah berpegang teguh pada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, berarti dia telah mendapatkan petunjuk ke jalan lurus, dan berarti dia telah menjauhi segala keburukan. Walhasil akan terlahirlah manusia-manusia dengan pribadi yang mulia/ bertaqwa di hadapan robbNya. Ketika pribadi-pribadi seperti ini masuk dalam system masyarakat akan memberikan kontribusi kebaikan. Tetapi sebaliknya apabila pribadi-pribadi yang jauh dari Allah SWT, dan RosulNya, pribadi-pribadi yang jauh dari kitabullah dan sunnah rosul-Nya masuk dalam system masyarakat maka akan banyak menimbulkan kerusakan. Dan pada dasarnya pribadi-pribadi ini adalah pribadi yang terkontaminsi oleh jin/ setan.
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguh dia telah berbuat sesat, dengan kesesatan yang nyata. (Q.S. Al Ahzhab: 36)
Peran social atau kedudukan individu dalam masyarakat beraneka ragam, marilah kita mulai dari peran terkecil sampai terbesar, antara lain:
(1) Sebagai Anak: ketika seorang anak terkena gangguan jin akan membentuk karakter/ kepribadian yang tidak baik, otomatis akan berpengaruh besar terhadap system keluarga. Anak ini akan mempunyai akhlak yang buruk, suka melawan orang tua, hidupnya tidak mau di atur, pemarah, pemurum, dan lain-lain. Sifat atau karakter ini muncul tergantung jenis jin yang berada dalam tubuhnya. Seperti yang sudah pernah kita tangani, seorang anak yang penyakit suka mencuri (kleptomania), suka berbohong. Semua bentuk kepribadian ini apabila ekstrim ( berlebihan) dan berada dalam system keluarga maka akan menimbulkan masalah dan mengganggu anggota keluarga yang lain. Jin anak tersebut berada dalam system sekolah, maka juga akan menimbulkan masalah di sekolah. Baik dengan gurunya, temannya, atau yang lainnya. Karena efek dari gangguan jin yang ada dalam tubuhnya. Di luar sekolah pun, anak ini akan mencari tempat/ lingkungan yang bisa menyuplai energy bagi makhluk yang ada dalam tubuhnya. Kecenderungannya lingkungannya tidak baik. Demikian seterusnya, pribadi ini berkembang dengan karakter yang dibentuk oleh provokasi jin/ setan. tanpa disadari maka lama kelamaan akan menjadi tabi’at yang utuh dan menyatu. Sehingga ketika anak ini menjadi seorang suami, ayah, ataupun mempunyai kedudukan di masyarakat tidak akan terlepas dari ini semua.
(2) Sebagai ayah: mempunyai kedudukan tertinggi dalam herarki keluarga. Ayah sebagai pemimpin, yang mempunyai tanggung jawab terhadap semua anggota keluarga. Bisa dibayangkan, apabila ayah yang seharusnya jadi panutan dan tauladan dari putra-putrinya dan istrinya mempunyai karakter/ sifat tidak selayaknya sebagai pemimpin. Seperti yang biasa sering kita dengar dan lihat; temperamen yang luar biasa (prilaku kasar terhadap anak dan istrinya), dholim terhadap keluarganya, perselingkuhan, perbuatan maksiat (miras, nerkoba, judi, dll). Ketika seorang ayah yang mempunyai karakter/ sifat yang merupakan refleksi dari gangguan jin ini berada dalam system keluarga akan merusak system ini. System akan goyah, bisa jadi putra-putrinya akan jadi korban dari buruknya karakter sang ayah. Dengan muncul sikap tidak santun, tidak ada rasa hormat, bahkan yang muncul sikap kebencian terhadap sosok sang ayah. Akhirnya mereka melampiaskan perasaan hatinya keluar rumah, dengan mencari teman dan lingkungan yang dirasa bisa mengobati hatinya. Demikian juga seorang istri, yang mempunyai suami yang dholim, selingkuh, tidak mempunyai rasa tanggung jawab, bisa jadi dengan lemahnya iman semakin diperpuruk dengan membalas prilaku buruk suami dengan perbuatan yang sama. Bisa dibayangkan jika setan telah berada dalam sebuah system, maka bisa merusak segenap system. Dan yang bisa selamat hanya orang yang hatinya tetap terpaut dengan keimanan pada Allah SWT dan syari’at yang dibawa rosulNya.
(3) Seorang ibu: kedudukan ibu dalam kelurga begitu besar, mulai peran dalam mendidik, membina, mengayomi maupun melayani semua anggota keluarga ( ayah dan anak-anak). Bisa dibayangkan, apabila seorang ibu terkena gangguan jin/ setan, yang pada akhirnya membentuk karakter atau kepribadian. Misalnya sifat suka marah, sedikit-sedikit anak-anak dibentak-bentak, diomeli kesana kemari, tidak ada nuansa mendidik, nuansa yang menyejukkan, yang ada hanya menyalahkan. Apa yang terjadi dengan anak-anaknya, yang mungkin masih kecil. Anak-anak yang masih balita, belum tahu benar-salah akhirnya psikologinya jadi timpang. Ada juga yang lebih parah, anak yang masih usia 3 bulan di bawah ke loteng mau dilempar. Demikian juga terhadap suami, dengan berbagai sifat ekstrem yang lahir dari provokasi jin/ setan. seperti sifat yang terlalu curiga terhadap suami, tidak percaya dengan yang dilakukan suami, merasa dibohongi, dan lain sebagainya. Sifat ini kalau ada dan ekstrim maka bisa berakibat fatal terhadap perjalanan rumah tangga, kalau tanpa ada penanganan yang serius bisa berakibat perceraian. Seorang yang sudah terprovokasi setan/ jin begitu berada di masyarakat bisa jadi orang suka gossip, iri terhadap tetangga, ada saja yang salah dengan orang lain, senantiasa menyebar fitnah. Demikian juga di lingkungan kerja akan banyak menemukan masalah baik dengan atasan, bawahan, rekan kerja ataupun bahkan suka menipu, berbohong, berkhianat, dan sebagainya.
(4) Sebagai pemimpin; Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Semua orang adalah pemimpin (pemelihara) dan akan dimintai pertanggung jawaban terhadap kepemimpinanya, baik pemimpin negara, pemimpin keluarga, ibu rumah tangga, dan siapa saja yang memiliki tanggung jawab termasuk memimpin dirinya sendiri, semua akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat kelak. Oleh karena itu setiap muslim harus berusaha menjadi pemimpin yang baik, pemimpin yang adil dan betul-betul memperhatikan kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi atau golongan. Apabila seorang individu dengan segenap gangguan jin dalam dirinya menjadi seorang pemimpin, baik di rumah tangga, perusahaan, instansi-instansi sampai yang tertinggi memimpin Negara maka akan memberikan kontribusi besar terhadap apa yang di pimpinnya. Jika pemikiran dan tindakan itu merupakan produk dari provokasi jin/ setan, maka apa yang dihasilkan bagi yang dipimpinnya juga tidak akan banyak memberikan manfaat. Misalkan saja seorang pemimpin yang mempunyai kesalahan pemahaman terhadap hakekat Allah SWT (gangguan jin yang paling besar terhadap diri manusia), maka banyak hal yang disentuhnya tidak barakah, banyak produk kebijakannya yang bertentangan dengan perintahNya, dan sebagainya. Kita bisa lihat kisah Firaun, seorang pemimpin dengan segenap kesalahan pemikiran dan kenyakinannya (produk dari gangguan jin) menguasai rakyatnya untuk mengikuti kenyakinannya. Belum lagi sifat-sifat buruk lainnya, berkhianat terhadap amanah, korupsi,sewenang-wenang, memutar balikan fakta (bohong), dan lain-lain.
(5) Sebagai pegawai/ karyawan; ketika jiwa terkena provokasi jin/ setan ada saja celah yang dilakukan setan untuk merusak pribadi orang tersebut. Ketika berada dalam komunitas kerja seringkali ada ucapan tidak terkontrol, akhirnya banyak orang tersakiti tetapi tanpa pernah disadari. Muncul juga kecemberuan social yang akhirnya muncul sifat mengadu domba diantara rekan kerja, selanjutnya muncul berbagai fitnah, etos kerja asal bapak senang, mudah mengeluh dll. Provokasi setan yang mondompleng ke dalam pribadi manusia ini bisa merusak berbagai tatanan, aturan, dan system itu sendiri.
(6) Sebagai guru/ ustadz/ ustadzah; seorang guru/ ustadz adalah panutan bagi anak didiknya. Dalam Islam kedudukan ustadz/ guru sangat mulia, karena beliau adalah yang mengajarkan ilmu pengetahuan agama ataupun ilmu bersifat duniawi. Zaman sekarang ini, seringkali kita mendengar berita perilaku guru/ ustadz yang tidak senonoh. Berita tentang ustadz di pesantren yang telah menodai beberapa santriwatinya, guru-guru di sekolah umum yang melakukan tindakan amoral terhadap murid putrinya, dan lain-lain. Hal ini adalah sebagian kecil gambaran dari seorang guru/ ustadz yang terkena gangguan jin/ setan. Karena perilaku buruk apapun yang muncul pada diri seseorang, pada dasarnya adalah produk dari provokasi jin/ setan dalam diri orang tersebut.
(7) Sebagai da’i/ da’iyyah: tidak bisa kita pungkiri bahwa seorang da’i/ da’iyyah mempunyai kedudukan yang mulia dalam Islam. Karena beliau adalah pejuang Allah SWT dan penerus rasulNya dalam menyebarkan dien terhadap umat manusia. Seperti yang telah diketahui, bahwa pada zaman sekarang ini telah banyak bermunculan difacebook dan didunia nyata para da’i atau khutoba’ dan semakin sedikitnya ahli ilmu. Dan yang paling banyak adalah khutobaa’ yang mengeluarkan fatwa dan jawaban yang sesat dan menyesatkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah mengabarkan tentang hal ini:
Artinya: ”Sesungguhnya kamu pada hari ini berada pada zaman dimana banyak sekali ulamanya dan sedikit sekali khutobaa’nya, barang siapa yang meninggalkan sepersepuluh dari apa yang telah ia ketahui (dari urusan agamanya) maka sesungguhnya ia telah mengikuti hawa nafsu. Dan akan datang nanti suatu zaman dimana banyak sekali khutobaa’nya dan sedikit sekali ulamanya, barang siapa yang berpegang dengan sepersepuluh dari apa yang telah ia ketahui (dari urusan agamanya), maka sesungguhnya ia telah selamat.” (H.R. ahmad)
Seorang yang berbicara tanpa ilmu, maka sesungguhnya dia telah sesat dan menyesatkan orang lain. Dan apabila seseorang yang tidak memiliki ilmu kemudian memberi fatwa kepada orang lain, maka dia berdosa dan dia juga akan menanggung dosa orang yang diberi fatwa. Belum lagi banyak terjadinya perseteruan di antara da’i-da’I, mereka bukannya bersatu dalam dakwah tetapi justru berusaha saling menjatuhkan. Apa yang bisa kita katakan, ketika melihat seorang da’I yang seharusnya dengan ilmunya beliau ini lebih bisa bersikap santun, bijaksana dan tawadhu’, justru yang terjadi sebaliknya.
Fenomena di atas hanyalah sebagian kecil bentuk gangguan jin/ setan dalam sebuah system kehidupan. Kita masih bisa mengembangkan pada berbagai sisi kehidupan yang lain, tetapi pada dasarnya adalah sama yaitu merusak system untuk berjalan secara optimal. Maka dapat disimpulkan, ada satu kata yang harus kita jadikan patokan untuk menghadapi gangguan jin/ setan yaitu waspadalah… waspadalah…. Wallahu’alam bi showab.

Anda ingin Belangganan Majalah al Umm

Pemasaran : 081 231 33 8889

Redaksi     : 081 231 33 9008

Be the first to comment on "Gangguan Jin Terhadap Peran – Kedudukan Manusia Di Masyarakat (III)"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*